Daily Calendar

Loading...

Senin, 08 Februari 2010

8. JALAN MEMPEROLEH MA’RIFAT

KAJIAN KITAB AL – HIKAM
Karya : Syekh Ibnu Athaillah

8. JALAN MEMPEROLEH MA’RIFAT

Apabila Allah membukakan bagimu jalan untuk ma’rifat, maka janganlah engkau hiraukan tentang amal-amalmu yang masih sedikit karena Allah tidak membuka jalan tadi melainkan dia berkehendak memperkenalkan diri-Nya kepadamu


Kalimat-kalimat Hikmah yang telah diuraikan mengajak kita merenung secara mendalam tentang pengertian amal, Qada dan Qadar, tadbir dan ikhtiar, doa dan janji Allah, yang semuanya itu mendidik rohani kita agar melihat betapa kecilnya apa yang datang daripada hamba dan betapa besarnya apa-apa yang dikaruniakan oleh Allah. Rohani yang terdidik begini akan membentuk sikap beramal tanpa melihat kepada amalan itu, sebaliknya melihat amalan itu sebagai karunia Allah yang wajib disyukuri. Orang yang terdidik seperti ini tidak lagi membuat tuntutan kepada Allah tetapi membuka hati nuraninya untuk menerima taufik dan hidayah dari Allah.

Orang yang hatinya suci bersih akan menerima pancaran Nur Sir dan mata hatinya akan melihat kepada hakikat bahwa Allah, Tuhan Yang Maha Mulia, Maha Suci dan Maha Tinggi tidak mungkin ditemui dan dikenali kecuali jika Dia mau ditemui dan dikenali. Tidak ada ilmu dan amal yang mampu menyampaikan seseorang kepada Allah. Tidak ada jalan untuk mengenal Allah. Allah hanya dikenali apabila Dia memperkenalkan ‘diri-Nya’.

Penemuan hakikat bahwa tidak ada jalan yang terhulur menuju gerbang ma’rifat merupakan puncak yang dapat dicapai oleh ilmu. Ilmu tidak mampu pergi lebih jauh dari itu. Apabila mengetahui dan mengakui bahwa tidak ada jalan atau tangga yang dapat mencapai Allah maka seseorang itu tidak lagi bersandar kepada ilmu dan amalnya, apalagi kepada ilmu dan amal orang lain. Bila sampai di sini seseorang itu tidak ada pilihan lagi melainkan menyerah sepenuhnya kepada Allah.

Ada orang yang mengetuk pintu gerbang ma’rifat dengan doanya. Jika pintu itu tidak terbuka maka semangatnya akan menurun hingga bisa jadi malah putus asa. Ada pula orang yang berpegang dengan janji Allah bahwa Dia akan membuka jalan-Nya kepada hamba-Nya yang berjuang pada jalan-Nya. Kuatlah dia beramal agar dia lebih layak untuk menerima karunia Allah sebagaimana janji-Nya. Dia menggunakan kekuatan amalannya untuk mengetuk pintu gerbang ma’rifat. Bila pintu tersebut tidak terbuka juga maka dia akan merasa ragu-ragu.

Dalam perjalanan mencari ma’rifat seseorang tidak terlepas dari kemungkinan menjadi ragu-ragu, lemah semangat dan berputus asa jika dia masih bersandar kepada sesuatu selain Allah. Seorang hamba tidak ada pilihan kecuali berserah diri kepada Allah, hanya Dia yang memiliki kuasa Mutlak dalam menentukan siapakah antara hamba-hamba-Nya yang layak mengenali Diri-Nya. Ilmu dan amal hanya digunakan untuk membentuk hati yang berserah diri kepada Allah. Aslim atau menyerah diri kepada
Allah adalah perhentian di hadapan pintu gerbang ma’rifat. Hanya para hamba yang sampai di perhentian aslim ini yang mempunyai kemungkinan menerima karunia ma’rifat. Allah mengantarkan hamba-Nya ke situasi ini adalah tanda bahwa si hamba tersebut dipersiapkan untuk menemui-Nya. Aslim adalah maqom muqorobah (berdekatan) dengan Allah. Barang siapa yang sampai kepada maqom ini haruslah terus membenamkan dirinya ke dalam lautan penyerahan tanpa menghiraukan banyak atau sedikit ilmu dan amal yang dimilikinya. Sekiranya Allah menghendaki dari maqom inilah hamba diangkat ke Hadirat-Nya.

Jalan menuju perhentian aslim yaitu pintu gerbang ma’rifat secara umum terbagi kepada dua. Jalan pertama dinamakan jalan orang yang mencari dan jalan kedua dinamakan jalan orang yang dicari. Orang yang mencari akan melalui jalan di mana dia kuat melakukan mujahadah (sungguh-sungguh), berjuang melawan godaan hawa nafsu, kuat melakukan amal ibadah dan gemar menuntut ilmu. Lahirnya sibuk melaksanakan tuntutan syariat dan batinnya memperteguh iman. Dipelajarinya tarekat tasawuf, mengenal sifat-sifat yang tercela dan berusaha mengikiskannya dari dirinya. Kemudian diisikan dengan sifat-sifat yang terpuji. Dipelajarinya perjalanan nafsu dan melatih dirinya agar nafsunya menjadi bertambah suci hingga meningkat ke tahap yang diridhai Allah.

Inilah orang yang diceritakan Allah dengan firman-Nya:
Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh (mujahadah) karena memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami (yang menjadikan mereka bergembira serta beroleh keridhaan); dan sesungguhnya (pertolongan dan bantuan) Allah senantiasa beserta orang-orang yang berusaha membaiki amalannya. ( Ayat 69 : Surah al-‘Ankabut )

Wahai manusia, Sesungguhnya kalian sentiasa bersusah-payah- (menjalankan keadaan hidupmu) dengan segenap upayamu hingga kembali kepada Tuhanmu, kemudian kalian akan temukan balasan apa yang telah kalian usahakan itu (tercatat semuanya). (Ayat 6 : Surah al-Insyiqaaq )

Orang yang bermujahadah pada jalan Allah dengan cara menuntut ilmu, mengamalkan ilmu yang dituntut, memperbanyak ibadah, berzikir, menyucikan hati, maka Allah menunjukkan jalan dengan memberikan taufik dan hidayah sehingga terbuka kepadanya suasana berserah diri kepada Allah tanpa ragu-ragu dan ridha dengan apa-apa yang telah Allah tentukan. Dia dibawa menghampiri pintu gerbang ma’rifat dan hanya Allah saja yang menentukan apakah orang tadi akan dibawa ke Hadrat-Nya atau tidak, dikaruniai ma’rifat atau tidak.

Golongan orang yang dicari menempuh jalan yang berbeda dari golongan orang yang mencari. Orang yang dicari tidak cenderung untuk menuntut ilmu atau beramal dengan tekun. Dia hidup selaku orang awam tanpa kesungguhan bermujahadah. Namun, Allah telah menentukan satu kedudukan kerohanian kepadanya, maka takdir akan mengantarnya sampai pada kedudukan yang telah ditentukan itu. Orang dalam golongan ini biasanya berhadapan dengan suatu peristiwa yang dengan serta-merta membawa perubahan jalan hidupnya. Perubahan sikap dan kelakuan berlaku secara mendadak. Kejadian yang menimpanya selalu berbentuk ujian yang memutuskan hubungannya dengan sesuatu yang menjadi penghalang diantara dirinya dengan Allah. Jika dia seorang raja yang beban kerajaannya menyebabkan dia tidak mampu mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah mencabut kerajaan itu dari dirinya. Terlepaslah dia dari beban tersebut dan pada masa yang sama timbul suatu keinsafan di dalam hatinya yang membuatnya menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Sekiranya dia seorang hartawan, takdir akan menghapus hartanya sehingga dia tidak ada tempat bergantung kecuali Allah sendiri. Seandainya dia berkedudukan tinggi, takdir mencabut kedudukan tersebut dan ikut tercabut pula kemuliaan yang dimilikinya tergantikan dengan kehinaan sehingga dia tidak punya tempat yang bisa dituju lagi kecuali kepada Allah. Takdir menghalangi orang ini untuk menerima bantuan dari makhluk sehingga mereka berputus asa terhadap makhluk.

Lalu mereka kembali dengan penuh kerendahan hati kepada Allah dan timbulah dalam hati mereka suasana penyerahan atau aslim yang sebenar-benarnya terhadap Allah. Penyerahan yang tidak mengharapkan apa-apa dari makhluk menjadikan mereka ridha dengan apa saja ketentuan Allah. Suasana begini membuat mereka sampai dengan cepat ke depan pintu gerbang ma’rifat walaupun ilmu dan amal mereka masih sedikit. Orang yang berjalan dengan kendaraan bala bencana mampu sampai ke hadapan gerbang tersebut dalam masa dua bulan sedangkan orang yang mencari mungkin bisa sampai dalam masa dua tahun.

Abu Hurairah r.a menceritakan, beliau r.a mendengar Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya:

Allah berfirman: “ Apabila Aku menguji hamba-Ku yang beriman kemudian dia tidak mengeluh kepada orang-orang yang mengunjunginya maka Aku lepaskan dia dari belenggu-Ku dan Aku gantikan baginya daging dan darah yang lebih baik dari yang dahulu, dan dia dipersilahkan memperbaharui amalnya sebab yang lalu telah diampuni semua”.

Amal kebaikan dan ilmunya tidak mampu membawanya kepada kedudukan kerohanian yang telah ditentukan Allah, lalu Allah dengan rahmat-Nya mengenakan ujian bala bencana yang menariknya dengan cepat kepada kedudukan muqorobin (orang-orang yang dekat dengan Allah). Oleh karena itu, tidak perlu dipersoalkan tentang amalan dan ilmu seandainya keadaan demikian menimpa seorang hamba-Nya.

Bersambung.....

Sumber :
http://pencaricintaillahi.blogspot.com/2009/01/kajian-kitab-al-hikam-karya-syekh-ibnu.html
Teks asli bisa diakses di sini : http://alhikam0.tripod.com/